Jun 23, 2012

Wakatobi yang Luar Biasa!

img_2205

Ini kali pertama saya menginjakan kaki di pulau dengan keindahan bawah laut yang luar biasa, Wakatobi. Perjalanan saya ke sini bersama @vera_makki, @nicowijaya dan mas Vandy dalam rangka membagikan donasi buku-buku cerita anak untuk Taman Bacaan Anak Lebah (TBAL) di desa Mola, Wangi Wangi Selatan.

Jumat, 15 Juni 2012, pukul 11.30 sampailah kami di Bandara Matahora, Wakatobi. Kami dijemput oleh bang Tonang, Pembina TBAL di Wakatobi dan langsung menuju ke penginapan, hotel Wisata, yang terletak di desa Mandati, Wangi Wangi Selatan.

Setelah istirahat sebentar dan makan siang di restoran dekat penginapan kami yang berlatarkan Laut Banda, perjalanan kami lanjutkan menuju TBAL binaan bang Tonang di desa Mola Selatan untuk membagikan donasi buku cerita anak. Sorenya kami menikmati sunset di desa itu. Malam harinya kami diajak bang Tonang ke pasar malam. Dalam benak saya, sebuah pasar malam di Jakarta layaknya pasar “kaget” dimana banyak orang berjualan aneka ragam barang dan juga ada permainan untuk anak-anak seperti di taman bermain. Ternyata perkiraan saya salah. Pasar malam di sini maksudnya adalah benar-benar pasar yang menjual aneka macam sayuran dan ikan yang dibuka pada malam hari. Tepatnya mulai pukul 16.00-20.00 WIT.

Di pasar ini, berbagai macam ikan segar hasil tangkapan nelayan setempat dijual sangat murah. Dibandingkan dengan di Jakarta atau kota-kota besar lainnya yang biasa menjual ikan  berdasarkan beratnya, di pasar malam ini ikan-ikan dijual per-ekor, terutama untuk ikan-ikan yang agak besar sehingga harganya jatuh lebih murah. Saya terus berjalan menyusuri pasar hingga sampai di ujungnya dan menemukan hamparan laut berlatar matahari senja yang akan segera tenggelam. Sungguh sebuah pemandangan yang indah dan tidak saya temukan setiap hari di Jakarta

Keesokan harinya, kami bersama bang Tonang dan keluarga ber-snorkeling. Ini juga pengalaman snorkeling pertama saya. Seketika itu juga saya takjub dengan  keindahan bawah laut pulau Wakatobi ini. Sayang sekali masih ditemukan beberapa sampah berupa daun-daun kering dan plastik bekas makanan.

Selesai snorkeling, kami berkeliling ke kampung air suku bajo di Mola Utara. Mengapa disebut kampung air? Karena pemukiman penduduk di sana berdiri di atas air. Uniknya, jika ada keperluan dengan tetangga sebelah rumah, mereka pun menggunakan perahu sebagai alat transportasinya. Tak heran, berenang dan mendayung perahu sudah dilakukan sejak usia kanak-kanak.

Perjalanan dengan perahu yang dikendarai oleh bang Tonang ini sampailah di pasar kampung air. Pasar tradisional ini tampak seperti pasar pada umumnya, tapi uniknya pasar ini dibuat dari kumpulan kayu yang dibangun kokoh di atas air. Penduduk setempat menggunakan alat transportasi perahu, yang juga digunakan untuk menempuh perjalanan ke pasar ini. Penduduk di sini ramah sekali terhadap pendatang. Terlihat dari bagaimana antusiasnya mereka “menyambut” kami dengan senyuman tulus yang tertangkap oleh kamera @nicowijaya dan @vera_makki.

Hari menjelang siang, kami pun kembali ke daratan dan bersiap untuk pindah ke penginapan selanjutnya, yaitu Patuno Resort. Oleh tim tur dari Patuna Resort, kami diantar berkeliling ke objek wisata setempat. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah kolam mata air Kalemana. Bentuk kolam tersebut mengingatkan saya pada kolam pemandiaan dewi khayangan dalam dongeng. Terbentuk secara alami dikelilingi bebatuan tinggi yang menghalangi sinar matahari sehingga membuat sejuk sekitarnya. Airnya sangat jernih dan dingin. Sering dipakai untuk mandi dan mencuci baju oleh penduduk sekitar.

Tempat kedua yang kami kunjungi adalah Benteng Liya, desa Liya Togo. Di benteng ini sering diadakan sayembara untuk mencari penjaga yang terhebat. Maka tidak heran muncul mitos yang mengatakan bahwa watak orang-orang dari kepulauan Wakatobi ini keras, karena sejak dulu “bertarung” untuk menjadi yang terhebat sudah mendarah daging bagi penduduk aslinya. Tanah tempat benteng ini berdiri konon dulu berada di bawah laut. Ditemukan fosil berbagai jenis batuan dan kerang laut di sana. Selain itu, di Benteng ini juga dimakamkan utusan Sultan Buton, berhiaskan piring-piring yang ditempelkan pada nisannya. Makam ini juga masih sering diziarahi oleh penduduk sekitar.

Tur pun selesai dan kami kembali ke penginapan. Malam harinya kami mengunjungi Taman Bacaan Anak Lebah lagi. Selesai bermain sebentar dengan anak-anak di sana, bang Tonang dan keluarga menyambut kami dengan menu makan malam sederhana yang luar biasa enak. Ikan segar, sambal yang disuguhkan langsung dari cobek, nasi panas dan makanan khas wakatobi yang terbuat dari singkong yang diparut. Mas Vandy dan @nicowijaya juga ikut mencoba bulu babi yang ternyata bisa diolah jadi makanan dengan cara direbus. Kami pun kembali ke penginapan dengan perut kenyang dan hati senang.

Sungguh sebuah perjalanan yang menyenangkan. Tidak hanya mengunjungi tempat-tempat yang indah, tapi berada di tengah masyarakat yang benar-benar menyambut kedatangan kami dengan tangan terbuka merupakan pengalaman “indah” yang tak terlupakan.

Sampai jumpa lagi, Wakatobi.

(Written by Rismadhani Chaniago — @sidhancrut )

Leave a comment

The Founder

Taman Bacaan Anak Lebah (Bee Children Reading Garden) didirikan oleh Elvera Nuriawati Makki. Lahir di Jakarta, 26 Mei 1976, ibu dari tiga anak ini memiliki mimpi untuk membangun masa depan anak-anak Indonesia menjadi lebih baik, utamanya yang kurang mampu dan berdomisili di wilayah Indonesia bagian Timur. Cara yang diusung pun sederhana, yaitu membangun kebiasaan membaca buku dan memperkenalkan buku sejak usia dini.

Vera adalah seorang business communicator dan praktisi Public Relations. Ia percaya, anak yang gemar membaca akan memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik dan cara berpikir yang lebih sistematis dibandingkan mereka yang kurang suka membaca.

Di waktu luang, Vera gemar menari, traveling, membuat scrap book, berenang, membaca, dan menghabiskan waktu bersama suami dan anak-anaknya.

Facebook Page