Jun 23, 2012

Taman Bacaan Anak Lebah Hadir di Wakatobi

150 anak-anak suku Bajo berkumpul dan membaca buku bersama

Wangi-wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 15 Juni 2012 – Taman Bacaan Anak Lebah (TBAL) hari ini berkumpul bersama 150 anak-anak suku Bajo di desa Mola Selatan untuk meresmikan kehadiran TBAL di komunitas tersebut. Mengikuti bentuk rumah panggung a la suku Bajo, TBAL berdiri di atas panggung terbuka berukuran 3,5m x 4m dan dilengkapi dengan rak buku – keduanya terbuat dari kombinasi kayu dan bambu.

Donasi buku cerita anak-anak ke desa ini telah berlangsung sejak tahun 2011. Jenis buku yang diberikan berfokus pada cerita bergambar dan berwarna untuk anak-anak usia 3-12 tahun. Komposisi buku yang diberikan adalah 80% buku baru dan 20% buku lama dengan kualitas yang masih baik.  Pemberian buku ini merupakan inti dari misi TBAL, yaitu membangun minat baca anak-anak sejak usia dini, dengan cara yang menyenangkan dan di lingkungan  yang kondusif bagi anak-anak untuk membaca sambil belajar dan bermain.

Seperti mekanisme di seluruh wilayah TBAL (Lombok Timur, Lombok Tengah, Pulau Seram, dan Ambon), TBAL Wakatobi terbuka bagi anak-anak yang ingin membaca buku sepuasnya, tanpa dipungut biaya. Buku dapat dibaca di lokasi namun tidak dapat dipinjam atau dibawa pulang, untuk memastikan setiap buku dapat dimanfaatkan dan dibaca oleh siapa pun.

Pada acara peresmian, hadir juga para orang tua murid, utamanya para ibu, dan diresmikan oleh Vera Makki dan Vandy Makki (Pendiri TBAL), Bapak Tonang Pammajere (Pembina dan Pengelola TBAL), Rismadhani (Pejuang Lebah), Bapak Abdul Gafur (Ketua Kekar – organisasi masyarakat suku Bajo di desa Mola Selatan) dan para tutor.

Pembagian buku cerita anak-anak kali ini merupakan hasil dari program “Satu Buku Satu Saudara” yang digalang selama 3 bulan sejak Februari 2012 hingga April 2012 melalui media sosial Twitter dan Facebook.

“Satu Buku Satu Saudara” mengajak setiap insan untuk menyumbangkan buku cerita anak-anak untuk diberikan kepada anak-anak kurang beruntung yang tersebar di 9 titik TBAL di pelosok Indonesia bagian Timur.  Mengambil konsep sahabat pena, setiap penyumbang diajak untuk menyelipkan pesan positif dan penuh semangat untuk penerima buku. Saat buku diterima dan dibaca, maka telah terjalin persaudaraan antara si pemberi dan si penerima. Dengan satu buku, terjalin satu persaudaraan. Semangat kebersamaan inilah yang diusung oleh TBAL dengan hashtag #SatuBukuSatuSaudara di Twitter.

Lebih dari 1000 orang berpartisipasi dalam misi sosial ini. Sekolah Binus International School Serpong, Tangerang, berhasil mengajak seluruh anak murid TK dan SD untuk menyumbangkan buku sehingga terkumpul 1200 buku, dimana sebanyak 320 buku dialokasikan ke Wakatobi. Di tingkat individu, sumbangan buku datang dari berbagai kota antara lain Jabodetabek, Semarang, Yogyakarta, Makassar, Malang, dan Surabaya. Adapun total buku yang selama ini diberikan ke TBAL Wakatobi mencapai sekitar 300 judul buku, total 400 buku. Sebagian didonasikan ke setiap anak, sebagian untuk koleksi TBAL Wakatobi.

Dengan adanya TBAL Wakatobi, diharapkan anak-anak suku Bajo yang sebagian besar merupakan anak nelayan, dapat memiliki minat baca yang besar dan menjadikan membaca buku sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari yang menyenangkan.

Buku merupakan jendela dunia dan merupakan sarana untuk memperluas wawasan, mengembangkan ide dan kreatifitas, membantu anak berpikir secara sistematis, mendorong mereka untuk gemar bereksplorasi, dan memperkuat karakter anak agar tumbuh cerdas, penuh semangat dan percaya diri.

—oo00oo—

Untuk keterangan lebih lanjut:

Twitter: @lebahbooks

Facebook: Taman Bacaan Anak Lebah

Email: lebahbooks@gmail.com

Situs: www.tamanbacaananaklebah.com

Leave a comment

The Founder

Taman Bacaan Anak Lebah (Bee Children Reading Garden) didirikan oleh Elvera Nuriawati Makki. Lahir di Jakarta, 26 Mei 1976, ibu dari tiga anak ini memiliki mimpi untuk membangun masa depan anak-anak Indonesia menjadi lebih baik, utamanya yang kurang mampu dan berdomisili di wilayah Indonesia bagian Timur. Cara yang diusung pun sederhana, yaitu membangun kebiasaan membaca buku dan memperkenalkan buku sejak usia dini.

Vera adalah seorang business communicator dan praktisi Public Relations. Ia percaya, anak yang gemar membaca akan memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik dan cara berpikir yang lebih sistematis dibandingkan mereka yang kurang suka membaca.

Di waktu luang, Vera gemar menari, traveling, membuat scrap book, berenang, membaca, dan menghabiskan waktu bersama suami dan anak-anaknya.

Facebook Page