Aug 22, 2011
admin

Introducing Viona, The Lebahbooks Warrior

[Pengantar dari Vera Makki]:

Dear All, perkenalkan Viona, the lebahbooks warrior, cewek cantik berambut panjang asal Surabaya ini sudah membantu #TamanBacaanAnakLebah menggalang dana di kampusnya Universitas Petra yang khusus  didonasikan kepada @GunungMimpi di Pulau Ambon.

Mau tau cerita serunya? Dengerin yuk! hebat loh, can do spiritnya luar biasa. There is a will, there is a way. You go girl!

——————————————————

“Jadi dengan tidak beli pentol (bakso), ayam penyet, atau absen minum Starbucks hari ini, Anda bisa memberikan bantuan bagi teman-teman kita di Ambon sana. Dukung mereka suka membaca, dan anda sudah bisa menyelamatkan generasi masa depan bangsa ini.”

Itu merupakan penggalan dari presentasi saya di hadapan total kurang lebih 150 orang dari tiga kelas yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk turut mendukung Taman Bacaan Anak Lebah (TBAL), sebuah organisasi non profit yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca anak-anak Indonesia di daerah yang belum terjamah pendidikan dengan baik. Organisasi ini diinisasi oleh Elvera N. Makki. Kesibukan Vera sebagai praktisi Public Relations ternama di Indonesia tidak menghalanginya untuk terus peduli dan berbagi pada sesama. Sebaliknya, ia merintis TBAL sebagai sebuah wujud nyata dari harapannya akan perubahan yang lebih baik untuk anak Indonesia.

SETITIK RAGU

Sebelum meminta ijin dari beberapa Dosen supaya saya diperbolehkan masuk dan melakukan penggalangan dana, saya pun berusaha mempersiapkan diri. Persiapan ini sedikit berbeda dari biasanya, karena saya tahu bahwa nantinya isu yang diangkat adalah mengenai pendidikan dan amal. Isu seperti itu bukannya tidak pernah ditanggapi di kampus saya, tapi hampir semua gerakan penggalangan dana harus ada di bawah organisasi kampus seperti BEM (Badan Eksekutif) atau HIMA (Himpunan Mahasiswa Jurusan). Jadi kali ini saya berusaha mengambil jalan ‘tol’ dengan cara yang legal, yaitu meminta izin dan memperkenalkan TBAL kepada Dosen yang bersangkutan.

Selain itu, patut diakui bahwa ada stigma tertentu bahwa mahasiswa jaman sekarang berpikir skeptis akan masalah sosial di sekitarnya. Tidak terkecuali kampus saya. Contoh ekstrimya, saat ada pendapat bahwa Universitas ini hanya dipenuhi oleh orang keturunan Tionghoa yang cuek dan tidak Indonesia banget. Saya tidak berkata itu benar, tapi memang hal itu cukup mengguncang iman saya di saat presentasi nanti. Pendidikan? Di Ambon yang jauh sana? Saya ‘deg2an’ akan respon yang bakal terjadi nanti.

DAN SAYAPUN SALAH

Kelas pertama yang saya datangi adalah salah satu kelas di Jurusan Ilmu Komunikasi, jurusan saya sendiri. Tentu, ini sedikit membantu karena ada beberapa orang yang wajahnya familiar. Setelah sekitar 10 menit saya mempresentasikan secara urut dari manfaat membaca buku sejak dini, fenomena pendidikan di Ambon, hingga penjelasan atas identitas TBAL, kini saatnya penggalangan dana dimulai.

Dengan kantong sederhana bermotif batik , sayapun mengedarkannya dan berharap bahwa hati mereka mau tergerak. Tanggapan mereka positif dan saya senang akan hasil dari presentasi pertama. Hal ini memicu semangat saya.

Saat hendak turun ke lantai bawah gedung jurusan, saya pun berpapasan dengan seorang Dosen kelas Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) yang mengajar beberapa kelas dengan topik menarik seperti Kajian Gender, Etika Profesi, dan lain sebagainya. Berbeda dengan kelas di Jurusan, MKDU adalah kelas yang bisa diikuti seluruh Jurusan secara bersamaan. Setelah berpapasan dan menyapa, saya berbalik lalu kembali mendatangi dosen tersebut.

“Pokoknya coba sek, ae.. (Pokoknya coba dulu saja)”ungkap saya dalam hati.

Tidak berbasa basi, saya pun memberikan penjelasan pada beliau dan menanyakan kesediannya untuk memberikan saya ijin presentasi mengenai TBAL.

“Sebenernya ini ijinnya panjang, tapi karena dulu Viona juga murid saya dan dan programnya ini positif, jadi saya tidak ada masalah.”

 Tidak percaya, saya pun kegirangan.

 ”Loh Bu, sungguan ta? (Loh Bu, apa benar?)

 ”Oh iya, tidak apa. Karena saya lihat Mbak Vera punya visi yang kurang lebih sama. Saya juga sekarang hendak memberikan bantuan buku pada saudara-saudara di daerah timur sana. Saya yakin, semakin banyak orang yang terlibat, akan semakin baik.”

 ”Baik Bu. Terima kasih banyak! Kira-kira bisa masuk kelas yang kapan ya?”

 ”Oh, lima belas  menit lagi kamu naik ya ke kelas saya disana”jawabnya setelah melihat jam tangannya.

 Walau kaget, sayapun mengiyakan dan segera berlari ke kelas sebelumnya untuk mengambil laptop. Saat itu juga saya sadar kalau tangan ini gemetar dan tidak percaya kalau ijinnya bisa diberikan dengan 10 menit perbicangan dan itu terjadi di anak tangga. Saya yakin, Tuhan pula yang mendukung kelancaran program TBAL ini.

BENAR, Don’t Judge a Book by Its Cover.

Nol besar. Saya tidak mengenal siapapun di kelas MKDU tersebut. Kelas Etika Profesi ini berisi sekitar 50 orang berbagai jurusan. Sekali lagi, saya ragu. Saya takut akan ketidakpedulian mereka.

“Oke, ini sekarang ada kakak kelas kalian, dia sekarang mau presentasi mengenai program kepedulian di Ambon dari Taman Bacaan Anak Lebah. Ini saya ijinkan karena programnya sangat positif dan juga menyangkut mata kuliah kita yang tentang Etika Profesi.”

Membuka presentasi saya, beliau dengan baik hati memberikan pengantar. Ia juga menjelaskan bahwa dalam kehidupan, pekerjaan bukan segalanya, pentingnya tindakan baik dilakukan untuk kepentingan orang lain juga.

Ketegangan saya semakin tinggi melihat puluhan tatapan mata yang bisa diartikan gan ganda, antara “ya, mengerti” atau “apaan sih ini”. Setelah saya menjelaskan, kantong edaran pun dibagikan. Setelah selesai, saya menutup presentasi tersebut dengan ucapan terimakasih dan keluar dari kelas. Di depan pintu sana, saya sudah gemetar dan berkaca-kaca melihat begitu penuhnya kantong tersebut dengan lembaran uang. Kaki saya berlari ke dalam kelas kosong dan segera menghitung. “Tuhan, ini karena restuMu juga.” 

Jumlah yang didapat adalah tiga kali lipat dari kelas pertama. Saya tahu,berapapun jumlahnya itu akan berarti. Namun hal ini diluar dari bayangan saya akan mahasiswa yang kelihatannya cuek dan bahkan tidak familiar dengan saya. Mereka benar-benar mendukung dan memberikan respon positif. Saking girangnya, saya menceritakan hal ini kepada Bu Fanny Lesmana, dosen di kelas pertama tadi.

 Kelas ketiga juga memberikan respon yang positif. Bahkan beberapa dari mereka malah menanyakan dengan detail buku-buku seperti apa yang boleh disumbangkan.

Melalui keikutsertaan dalam program TBAL, saya belajar mengenai banyak hal. Saya mencoba untuk tidak lagi mudah diciutkan karena stigma yang mungin menakutkan, belajar untuk bernegosiasi dengan orang lain, dan khususnya belajar untuk lebih mengerti isu pendidikan di negeri ini.

Saat saya browsing mengenai perkembangan sekolah di Ambon, saya menemukan beberapa informasi yang menyentuh hati saya seperti :

- Banyak dari mereka yang kehilangan orang tua karena kerusuhan yang pernah terjadi, akibatnya mereka tidak mempunyai orang yang bisa memfasilitasi pendidikan yang layak. Seakan mereka kehilangan arah.

- Ada sejumlah PAUD yang tersedia di Ambon, namun itu saja tidak cukup. Mereka juga akan sangat terbantu dengan dukungan dari orang-orang yang tinggal di kota maju.

Menurut hemat saya, minimnya pendidikan bisa jadi awal dari sebuah tindakan kriminalitas, karena mereka tidak mendapat pengalaman interaksi maupun asupan pengetahuan yang normal dan sewajarnya. Krusial, menurut saya. Dampak yang terjadi dalam jangka panjang bukanlah dampak yang diinginkan negara ini.

JEJAK LEBAH

Saya yakin bahwa program ini bisa membuka mata ratusan mahasiswa tadi akan sebuah realita dan mengajak mereka untuk berpartisipasi. Seringkali bukannya kita tidak peduli, kita seringkali tidak tahu menahu.

Nah, kalau dengan donasi dan buku kita bersama bisa memajukan pendidikan dan mengubah masa depan anak bangsa, mengapa tidak?  Kata pepatah, sedikit-sedikit lama lama menjadi bukit. Harapan yang sama pun saya berikan untuk Ambon dan kota lainnya yang belum mengecap nikmatnya ilmu pengetahuan. Harapan untuk kemajuan dan perkembangan dunia pendidikan disana yang dimulai dari hal sederhana. Kebiasaan membaca buku.

Ingin turut berpartisipasi? Siapapun dan dimanapun Anda , TBAL siap mendukung Anda untuk bisa menjadi sumber harapan generasi penerus bangsa….

4 Comments

  • Aloha! Thank you for your resource! Frankly speaking I have never come across anything that cool.

  • Your blog is really very informative. Keep working that way.

  • nice :-)

  • i like this.. nice.. :)

Leave a comment

The Founder

Taman Bacaan Anak Lebah (Bee Children Reading Garden) didirikan oleh Elvera Nuriawati Makki. Lahir di Jakarta, 26 Mei 1976, ibu dari tiga anak ini memiliki mimpi untuk membangun masa depan anak-anak Indonesia menjadi lebih baik, utamanya yang kurang mampu dan berdomisili di wilayah Indonesia bagian Timur. Cara yang diusung pun sederhana, yaitu membangun kebiasaan membaca buku dan memperkenalkan buku sejak usia dini.

Vera adalah seorang business communicator dan praktisi Public Relations. Ia percaya, anak yang gemar membaca akan memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik dan cara berpikir yang lebih sistematis dibandingkan mereka yang kurang suka membaca.

Di waktu luang, Vera gemar menari, traveling, membuat scrap book, berenang, membaca, dan menghabiskan waktu bersama suami dan anak-anaknya.

Facebook Page