Jan 31, 2013

#SatuBukuSatuSaudara2013

Yuk Ikutan! Berbagi Satu Buku, Nambah Satu Saudara, Berjuta Makna, Berjuta Rasa

Hai, pejuang lebah! #SatuBukuSatuSaudara2013 is back!

Mengingat #SatuBukuSatuSaudara yang telah berhasil dilakukan pertama kali pada tahun 2012 lalu, sekarang kami kembali mengajak teman-teman untuk ikut berpartisipasi, berbagi bersama anak-anak di Indonesia Timur.

#SatuBukuSatuSaudara adalah sebuah project “misteri” dari Taman Bacaan Anak Lebah, hasil besutan @iphankdewe dan semangat kepedulian @sidhancrut, @dbrahmantyo dan @popokman. Tidak ada hubungannya dengan hal-hal menyeramkan ataupun rahasia, Taman Bacaan Anak Lebah hanya ingin menjawab rasa penasaran yang muncul dari sebuah buku, pemberi buku dan penerima buku tersebut.

Kami ingin memberikan kesempatan kepada pemberi buku dan penerimanya untuk merasakan hubungan yang lebih “personal” satu sama lain. Anak-anak yang menerima buku-buku tersebut dapat mengetahui siapa pemberinya melalui secarik kertas berisi pesan yang diselipkan di setiap buku. Melalui satu buku, tercipta persaudaraan antara pemberi dan penerima. Satu Buku, Satu Saudara.

Caranya mudah sekali:

Pertama,

Pilih buku cerita untuk anak usia 1-15 tahun yang berwarna dan banyak gambar. Untuk usia 10-15 tahun, bisa mulai diberikan buku dengan teks yang lebih banyak

Kedua,

Di setiap buku yang ingin disumbangkan, disertai surat, catatan, atau cerita (berisikan tentang apa saja) yang ditujukan untuk anak-anak penerima buku tersebut.

Ketiga,

Twitpic foto diri bersama buku yang akan disumbangkan dengan mention ke @lebahbooks atau @sidhancrut. Buku dapat dikumpulkan di titik yang nanti ditentukan (hubungi @sidhancrut atau di HP 081584855106).

Dapat juga langsung dikirim ke alamat:

Taman Bacaan Anak Lebah #SatuBukuSatuSaudara Rismadhani Chaniago / dhani (@sidhancrut) Jl.Poltangan I No. 53 RT. 01/010 Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Catatan:

Batas pengumpulan buku sampai 30 Maret 2013
Setelah buku-buku tersebut kami kirimkan ke beberapa titik di Indonesia Timur, para kakak pendamping di Taman Bacaan Anak Lebah akan membagikan buku tersebut. Satu buku, satu anak. Kemudian akan diperlihatkan foto dan surat/notes kepada anak yang menerima buku itu, dan mereka akan memberikan ucapan terima kasih secara langsung melalui foto atau balasan surat/catatan dari pengirim.

Let’s unite and act!
for the betterment of Indonesian children …

Jun 23, 2012

Wakatobi yang Luar Biasa!

img_2205

Ini kali pertama saya menginjakan kaki di pulau dengan keindahan bawah laut yang luar biasa, Wakatobi. Perjalanan saya ke sini bersama @vera_makki, @nicowijaya dan mas Vandy dalam rangka membagikan donasi buku-buku cerita anak untuk Taman Bacaan Anak Lebah (TBAL) di desa Mola, Wangi Wangi Selatan.

Jumat, 15 Juni 2012, pukul 11.30 sampailah kami di Bandara Matahora, Wakatobi. Kami dijemput oleh bang Tonang, Pembina TBAL di Wakatobi dan langsung menuju ke penginapan, hotel Wisata, yang terletak di desa Mandati, Wangi Wangi Selatan.

Setelah istirahat sebentar dan makan siang di restoran dekat penginapan kami yang berlatarkan Laut Banda, perjalanan kami lanjutkan menuju TBAL binaan bang Tonang di desa Mola Selatan untuk membagikan donasi buku cerita anak. Sorenya kami menikmati sunset di desa itu. Malam harinya kami diajak bang Tonang ke pasar malam. Dalam benak saya, sebuah pasar malam di Jakarta layaknya pasar “kaget” dimana banyak orang berjualan aneka ragam barang dan juga ada permainan untuk anak-anak seperti di taman bermain. Ternyata perkiraan saya salah. Pasar malam di sini maksudnya adalah benar-benar pasar yang menjual aneka macam sayuran dan ikan yang dibuka pada malam hari. Tepatnya mulai pukul 16.00-20.00 WIT.

Di pasar ini, berbagai macam ikan segar hasil tangkapan nelayan setempat dijual sangat murah. Dibandingkan dengan di Jakarta atau kota-kota besar lainnya yang biasa menjual ikan  berdasarkan beratnya, di pasar malam ini ikan-ikan dijual per-ekor, terutama untuk ikan-ikan yang agak besar sehingga harganya jatuh lebih murah. Saya terus berjalan menyusuri pasar hingga sampai di ujungnya dan menemukan hamparan laut berlatar matahari senja yang akan segera tenggelam. Sungguh sebuah pemandangan yang indah dan tidak saya temukan setiap hari di Jakarta

Keesokan harinya, kami bersama bang Tonang dan keluarga ber-snorkeling. Ini juga pengalaman snorkeling pertama saya. Seketika itu juga saya takjub dengan  keindahan bawah laut pulau Wakatobi ini. Sayang sekali masih ditemukan beberapa sampah berupa daun-daun kering dan plastik bekas makanan.

Selesai snorkeling, kami berkeliling ke kampung air suku bajo di Mola Utara. Mengapa disebut kampung air? Karena pemukiman penduduk di sana berdiri di atas air. Uniknya, jika ada keperluan dengan tetangga sebelah rumah, mereka pun menggunakan perahu sebagai alat transportasinya. Tak heran, berenang dan mendayung perahu sudah dilakukan sejak usia kanak-kanak.

Perjalanan dengan perahu yang dikendarai oleh bang Tonang ini sampailah di pasar kampung air. Pasar tradisional ini tampak seperti pasar pada umumnya, tapi uniknya pasar ini dibuat dari kumpulan kayu yang dibangun kokoh di atas air. Penduduk setempat menggunakan alat transportasi perahu, yang juga digunakan untuk menempuh perjalanan ke pasar ini. Penduduk di sini ramah sekali terhadap pendatang. Terlihat dari bagaimana antusiasnya mereka “menyambut” kami dengan senyuman tulus yang tertangkap oleh kamera @nicowijaya dan @vera_makki.

Hari menjelang siang, kami pun kembali ke daratan dan bersiap untuk pindah ke penginapan selanjutnya, yaitu Patuno Resort. Oleh tim tur dari Patuna Resort, kami diantar berkeliling ke objek wisata setempat. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah kolam mata air Kalemana. Bentuk kolam tersebut mengingatkan saya pada kolam pemandiaan dewi khayangan dalam dongeng. Terbentuk secara alami dikelilingi bebatuan tinggi yang menghalangi sinar matahari sehingga membuat sejuk sekitarnya. Airnya sangat jernih dan dingin. Sering dipakai untuk mandi dan mencuci baju oleh penduduk sekitar.

Tempat kedua yang kami kunjungi adalah Benteng Liya, desa Liya Togo. Di benteng ini sering diadakan sayembara untuk mencari penjaga yang terhebat. Maka tidak heran muncul mitos yang mengatakan bahwa watak orang-orang dari kepulauan Wakatobi ini keras, karena sejak dulu “bertarung” untuk menjadi yang terhebat sudah mendarah daging bagi penduduk aslinya. Tanah tempat benteng ini berdiri konon dulu berada di bawah laut. Ditemukan fosil berbagai jenis batuan dan kerang laut di sana. Selain itu, di Benteng ini juga dimakamkan utusan Sultan Buton, berhiaskan piring-piring yang ditempelkan pada nisannya. Makam ini juga masih sering diziarahi oleh penduduk sekitar.

Tur pun selesai dan kami kembali ke penginapan. Malam harinya kami mengunjungi Taman Bacaan Anak Lebah lagi. Selesai bermain sebentar dengan anak-anak di sana, bang Tonang dan keluarga menyambut kami dengan menu makan malam sederhana yang luar biasa enak. Ikan segar, sambal yang disuguhkan langsung dari cobek, nasi panas dan makanan khas wakatobi yang terbuat dari singkong yang diparut. Mas Vandy dan @nicowijaya juga ikut mencoba bulu babi yang ternyata bisa diolah jadi makanan dengan cara direbus. Kami pun kembali ke penginapan dengan perut kenyang dan hati senang.

Sungguh sebuah perjalanan yang menyenangkan. Tidak hanya mengunjungi tempat-tempat yang indah, tapi berada di tengah masyarakat yang benar-benar menyambut kedatangan kami dengan tangan terbuka merupakan pengalaman “indah” yang tak terlupakan.

Sampai jumpa lagi, Wakatobi.

(Written by Rismadhani “dhani” @sidhancrut  www.tamanbacaananaklebah.com)

Jun 23, 2012

Pengalaman Pertama Mendarat di Wakatobi

img_1210

Dalam rangka penyerahan donasi #SatuBukuSatuSaudara tahap kedua setelah Lombok, saya, @vera_makki, @nicowijaya dan mas Vandy terbang ke Wangi-wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara untuk mengunjungi #TamanBacaanAnakLebah Wakatobi.

Kami akan bertemu dengan bang Tonang Pammajere, Pembina TBAL di desa Mola Selatan, yang berlokasi di pinggir pantai tempat suku asli Bajo bermukim. Kami berangkat dari rumah pukul 3 pagi untuk mengejar pesawat ke Makassar pukul 5, dilanjutkan penerbangan menuju Wangi-wangi pukul 10 pagi, transit di pulau Bau-bau. Lengkap sudah dalam setengah hari, kami melalui 3x take off dan 3x landing. But we’re excited!

Pukul 11.30 pagi akhirnya kami sampai di bandara Matahora, Wakatobi. Siang harinya kami langsung mengunjungi TBAL asuhan bang Tonang untuk membagikan donasi buku cerita anak-anak. Sebagian besar merupakan hasil donasi dari TK dan SD Binus International School Serpong, sebagian lagi hasil donasi individu dari teman-teman Akademi Berbagi (Akber) Semarang dan Jalan Sesama. Anak-anak antusias sekali saat menerima buku-buku cerita tersebut.

Menurut cerita bang Tonang, minat baca anak-anak di desa Mola Selatan ini rendah sekali, karena memang tidak ada buku bacaan anak-anak. Kegiatan sehari-hari mereka selain bersekolah adalah bermain di laut, karena sebagian besar orangtua mereka bermatapencaharian sebagai nelayan. Dimulai dari kepeduliannya pada anak-anak tersebut, maka bang Tonang pun berinisiatif untuk membuat sebuah taman bacaan, didukung TBAL.

Dengan memaksimalkan segala apa yang bisa dilakukan di tengah keterbatasannya, bang Tonang pun mengumpulkan kayu-kayu dan bambu, lalu dibuatlah sebuah bale-bale dan rak buku. Taman Bacaan sederhana pun kemudian berdiri tegak di depan rumahnya. Seluruh buku cerita anak-anak, mainan, alat penunjang dan alat tulis dikirim dari pusat TBAL Jakarta sejak tahun lalu. Anak-anak bebas berkunjung.

Acara pembagian buku dihadiri oleh 150 anak-anak, para tutor, relawan, dan orang tua. Peresmian TBAL Wakatobi dihadiri oleh Ketua KEKAR (organisasi masyarakat setempat). Sorenya, kami bermain bersama anak-anak tersebut sambil membacakan buku-buku cerita yang baru saja mereka dapatkan. Menurut bang Tonang, anak-anak di sini memang sudah tidak sabar menunggu kedatangan kami untuk membagikan buku-buku cerita. Mereka terlihat senang dan antusias.

Tonang Pammajere, yang bernama asli Darsono ini lahir pada 19 Oktober 1971 di desa Mola, Wangi Wangi Selatan. Berdarah asli suku Bajo dan Bugis, pria yang mata pencaharian utamanya bekerja di bengkel mesin laut ini memiliki harapan agar kedua anaknya yang bernama Hegel (7 tahun) dan Geral (3 tahun) menjadi anak-anak yang cerdas dan memiliki nasib lebih baik dari kedua orangtuanya.

Tidak hanya sekedar menjadi pekerja kasar atau nelayan saja, bang Tonang juga sangat peduli terhadap lingkungan. Ia rajin mengumpulkan sampah di laut, karena tak ingin keindahan laut tercemar. Sempat ia diledek oleh teman-temannya karena memungut sampah, disangka tidak ada kerjaan. Namun pada akhirnya pun teman-teman ikut membersihkan pantai dan laut, menjadikannya lebih bersih.

Dengan keinginan yang kuat untuk menumbuhkan minat baca anak-anaknya, maka dibuatlah Taman Bacaan Anak Lebah ini. Sesuai dengan namanya, Pamajere yang berarti pengejar, bang Tonang dengan gigih mengejar cita-citanya, menjadikan anak-anaknya cerdas dan berguna bagi bangsa dan negara.

(Written by Rismadhani “dhani” @sidhancrut  www.tamanbacaananaklebah.com)

Jun 23, 2012

Taman Bacaan Anak Lebah Hadir di Wakatobi

150 anak-anak suku Bajo berkumpul dan membaca buku bersama

Wangi-wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 15 Juni 2012 – Taman Bacaan Anak Lebah (TBAL) hari ini berkumpul bersama 150 anak-anak suku Bajo di desa Mola Selatan untuk meresmikan kehadiran TBAL di komunitas tersebut. Mengikuti bentuk rumah panggung a la suku Bajo, TBAL berdiri di atas panggung terbuka berukuran 3,5m x 4m dan dilengkapi dengan rak buku – keduanya terbuat dari kombinasi kayu dan bambu.

Donasi buku cerita anak-anak ke desa ini telah berlangsung sejak tahun 2011. Jenis buku yang diberikan berfokus pada cerita bergambar dan berwarna untuk anak-anak usia 3-12 tahun. Komposisi buku yang diberikan adalah 80% buku baru dan 20% buku lama dengan kualitas yang masih baik.  Pemberian buku ini merupakan inti dari misi TBAL, yaitu membangun minat baca anak-anak sejak usia dini, dengan cara yang menyenangkan dan di lingkungan  yang kondusif bagi anak-anak untuk membaca sambil belajar dan bermain.

Seperti mekanisme di seluruh wilayah TBAL (Lombok Timur, Lombok Tengah, Pulau Seram, dan Ambon), TBAL Wakatobi terbuka bagi anak-anak yang ingin membaca buku sepuasnya, tanpa dipungut biaya. Buku dapat dibaca di lokasi namun tidak dapat dipinjam atau dibawa pulang, untuk memastikan setiap buku dapat dimanfaatkan dan dibaca oleh siapa pun.

Pada acara peresmian, hadir juga para orang tua murid, utamanya para ibu, dan diresmikan oleh Vera Makki dan Vandy Makki (Pendiri TBAL), Bapak Tonang Pammajere (Pembina dan Pengelola TBAL), Rismadhani (Pejuang Lebah), Bapak Abdul Gafur (Ketua Kekar – organisasi masyarakat suku Bajo di desa Mola Selatan) dan para tutor.

Pembagian buku cerita anak-anak kali ini merupakan hasil dari program “Satu Buku Satu Saudara” yang digalang selama 3 bulan sejak Februari 2012 hingga April 2012 melalui media sosial Twitter dan Facebook.

“Satu Buku Satu Saudara” mengajak setiap insan untuk menyumbangkan buku cerita anak-anak untuk diberikan kepada anak-anak kurang beruntung yang tersebar di 9 titik TBAL di pelosok Indonesia bagian Timur.  Mengambil konsep sahabat pena, setiap penyumbang diajak untuk menyelipkan pesan positif dan penuh semangat untuk penerima buku. Saat buku diterima dan dibaca, maka telah terjalin persaudaraan antara si pemberi dan si penerima. Dengan satu buku, terjalin satu persaudaraan. Semangat kebersamaan inilah yang diusung oleh TBAL dengan hashtag #SatuBukuSatuSaudara di Twitter.

Lebih dari 1000 orang berpartisipasi dalam misi sosial ini. Sekolah Binus International School Serpong, Tangerang, berhasil mengajak seluruh anak murid TK dan SD untuk menyumbangkan buku sehingga terkumpul 1200 buku, dimana sebanyak 320 buku dialokasikan ke Wakatobi. Di tingkat individu, sumbangan buku datang dari berbagai kota antara lain Jabodetabek, Semarang, Yogyakarta, Makassar, Malang, dan Surabaya. Adapun total buku yang selama ini diberikan ke TBAL Wakatobi mencapai sekitar 300 judul buku, total 400 buku. Sebagian didonasikan ke setiap anak, sebagian untuk koleksi TBAL Wakatobi.

Dengan adanya TBAL Wakatobi, diharapkan anak-anak suku Bajo yang sebagian besar merupakan anak nelayan, dapat memiliki minat baca yang besar dan menjadikan membaca buku sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari yang menyenangkan.

Buku merupakan jendela dunia dan merupakan sarana untuk memperluas wawasan, mengembangkan ide dan kreatifitas, membantu anak berpikir secara sistematis, mendorong mereka untuk gemar bereksplorasi, dan memperkuat karakter anak agar tumbuh cerdas, penuh semangat dan percaya diri.

—oo00oo—

Untuk keterangan lebih lanjut:

Twitter: @lebahbooks

Facebook: Taman Bacaan Anak Lebah

Email: lebahbooks@gmail.com

Situs: www.tamanbacaananaklebah.com

Mar 26, 2012

Perjalananku Mengantar Buku #SatuBukuSatuSaudara

Say Cheers from Lombok Timur ...

Say Cheers from Lombok Timur ...

Malam ini saya senang sekali. Tepatnya tanggal 22 Maret 2012, pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Lombok. Hal yang mengantarkan saya ke sini adalah sebuah misi dari @lebahbooks melalui  program yang disebut #SatuBukuSatuSaudara. Ya, ini adalah penyerahan pertama sebagian dari hasil donasi buku #SatuBukuSatuSaudara kepada anak-anak di pelosok Lombok dari berbagai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai mitra Taman Bacaan Anak Lebah (TBAL).

Keesokan harinya saya bersama mbak @vera_makki , mbak @poetrisoehendro , mas @fahmivalen sang fotografer, pak Usman (pengelola PAUD Al-Mujahidin) dan bu Mukanah (Pembina TBAL) mengunjungi PAUD  AL-Falaah yang terletak di Lombok Timur. PAUD ini terletak di pinggir sawah, hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Tak hanya PAUD, Al-Falaah juga memiliki tempat untuk Posyandu, Parenting room, dan TK.  Kedatangan kami ke PAUD tersebut sebagai undangan Pak Azro’i, pengelola PAUD tersebut, yang merasa kegiatan anak-anak ini akan semakin lengkap apabila disokong buku cerita anak-anak, sehingga mengajak TBAL untuk bermitra.

Setiba di sana, saya dikejutkan dengan kondisi  PAUD tersebut, dimana bangunan, ruang kelas, para guru dan “situasi” di sana tampak seperti sekolah/TK profesional. Padahal PAUD AL-Falaah itu terbentuk dari hasil swadaya. Ternyata semua ini berkat semangat kepedulian dan kegigihan dari masyarakat setempat yang ingin mengentaskan buta huruf di  lingkungan/daerahnya. “Semoga Taman Bacaan Anak Lebah berkenan untuk juga menyalurkan buku cerita anak-anak ke kami, agar wawasan dan kreativitas anak-anak semakin berkembang,” ujar pak Azro’i.

Setelah mengunjungi PAUD AL-Falaah, kami melanjutkan perjalanan menuju pantai Labuan Haji. Di sana sudah dikumpulkan 150 anak-anak dari 7 PAUD gabungan  dari Lombok Tengah dan Timur. Sayangnya anak-anak dari PAUD Istiqomah dan Rambitan Jaya tidak bisa hadir karena jarak yang terlalu jauh. Mereka diwakili para tutor dan pengelola yang secara simbolis menerima buku-buku dari donatur. Sekitar pukul  9 pagi, mbak @poetrisoehendro mulai mendongeng. Anak-anak pun terhipnotis dengan cerita yang disampaikan oleh mbak Putri sampai tak terasa waktu mendekati sholat Jum’at.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pembagian donasi buku #SatuBukuSatuSaudara.  Sepanjang kampanye #SatuBukuSatuSaudara yang digaungkan melalui social media sejak awal Maret, terkumpul 150 buku, sebagian besar dengan catatan kecil dari si pengirim yang diselipkan dalam buku cerita.

Mimik keheranan pun muncul di wajah anak-anak itu ketika membaca surat/note yang terselip di dalam buku yang mereka terima. Mereka tidak pernah menerima surat sebelumnya dan tidak mengerti betul mengapa ada teman-teman dari berbagai kota yang peduli sedemikian rupa terhadap mereka.
Yang menggembirakan, saat mulai dijelaskan perlahan-perlahan, mimik mereka kemudian berubah menjadi ekspresi gembira ketika memamerkan surat/note itu ke teman-teman mereka dan membacanya dengan keras (tentu dengan bisikan dari tutor, sebagian dari mereka belum bisa membaca).  Mereka berjanji akan membaca dan menyimpan buku-buku tersebut dengan baik dan berterima kasih sekali kepada kakak-kakak yang sudah berbaik hati memberikan mereka buku cerita. Akhir dari kegiatan kami siang itu dipenuhi dengan kegembiraan. Walaupun cuaca panas terik, tetapi tidak mengurangi semangat para guru dan kepala sekolah, serta keceriaan anak-anak  itu.
Terima kasih mbak @poetrisoehendro, mas Fahmi , ibu Mukanah, pak Usman dan pak Az’roi yang sudah membantu hingga terselenggaranya kegiatan bersama anak-anak dari PAUD AL-Mujahidin, Assajari, Melati, Amanah, dan AL-Fallah (minus PAUD Istiqomah dan Rambitan Jaya). Berikut adalah foto-foto kegiatan dan penyerahan donasi #SatuBukuSatuSaudara batch 1.

Buat teman-teman yang ingin berdonasi buku untuk #SatuBukuSatuSaudara, masih kami tunggu partisipasinya. Anak-anak di Wakatobi, Ambon, Pulau Seram juga menanti kepedulian kalian lho ;)

(written by Rismadhani ‘Dhani’ – @sidhancrut www.tamanbacaananaklebah.com)
Wajah ceria menerima buku dari #SatuBukuSatuSaudara.

Wajah ceria menerima buku dari #SatuBukuSatuSaudara.

Tutor membantu Tika membaca secarik semangat dari si pengirim #SatuBukuSatuSaudara

Tutor membantu Tika membaca secarik semangat dari si pengirim #SatuBukuSatuSaudara

Pembagian buku hasil dari #SatuBukuSatuSaudara

Pembagian buku hasil dari #SatuBukuSatuSaudara. "Kamu dapat buku yang mana?"

Mendengarkan dongeng si Kodok di pinggir pantai, Lombok

Mendengarkan dongeng si Kodok di pinggir pantai, Lombok

#SatuBukuSatuSaudara ... anak-anak penerima buku. Terima kasih bagi yang sudah menambah tali persaudaraan dengan mereka.

#SatuBukuSatuSaudara ... anak-anak penerima buku. Terima kasih bagi yang sudah menambah tali persaudaraan dengan mereka.

Pages:123»

Supported By

The Founder

Mari berkenalan dengan Vera Makki, pendiri Taman Bacaan Anak Lebah (TBAL). Lahir di Jakarta, 26 Mei 1976, ibu dari dua anak ini memiliki mimpi untuk membangun masa depan anak-anak Indonesia menjadi lebih baik, utamanya yang kurang mampu dan berdomisili di wilayah Indonesia bagian Timur. Cara yang diusung pun sederhana, yaitu membangun kebiasaan membaca buku sejak usia dini (1-8tahun).

Vera Makki adalah seorang business communicator dan praktisi Public Relations. Ia percaya, anak yang gemar membaca akan memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik dan cara berpikir yang lebih sistematis dibanding mereka yang kurang suka membaca.

Di waktu luang, Vera gemar menari, traveling, membuat scrap book, berenang, membaca, dan menghabiskan waktu bersama suami dan anak-anaknya.

Facebook Page